Kamis, 19 Februari 2015
MAKNA AL-FATIHAH
=¤= MAKNA AL-FATIHAH =¤=
Saat membaca surah Al-Fatihah pada waktu shalat, banyak sekali orang yang cara membacanya tergesa-gesa tanpa spasi.
Ini sering terjadi dalam shalat berjamaah, seakan ingin cepat- selesai shalatnya.
Padahal disaat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al- Fatihah, Allah menjawab setiap ucapan kita. Maka dari itu sebaiknya kita harus berhenti setiap selesai membaca satu ayat.
Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah SWT berfirman :
''Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk hambaKu.''
Artinya:
''Tiga ayat diatas Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in'' adalah hak Allah, & tiga ayat kebawahnyaadala ¬h urusan hambaNya"
=> Ketika Kita mengucapkn
''Alhamdulillah ¬ iRabbil 'alamin''
Allah menjawab:
''HambaKu telah memujiKu...''
=> Ketika kita mengucapkn
''Ar-Rahmanir-Rahim''
Allah menjawab:
''HambaKu telah mengagungkanKu. ¬ ..''
=> Ketika kita mengucapkan
''Maliki yaumiddin''
Allah menjawab:
''HambaKu memujaKu...''
=> Ketika kita mengucapkan
''Iyyaka na' budu wa iyyaka nasta'in''
Allah menjawab:
''Inilah perjanjian antara Aku dan hambaKu...''
=> Ketika kita mengucapkan
''Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzina ¬ an'amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin''
Allah menjawab:
''Inilah perjanjian antara Aku dan hambaKu, akan Kupenuhi yang ia minta'' (HR.Muslim & Tirmidzi)
Sahabatku...
Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat. Rasakanlah jawaban indah dari Allah, karna Allah sedang menjawab ucapanmu.
Selanjutnya ucapkanlah ''Aamiin'' dg ucapan yg lembut, sebab malaikatpun sedang mengucapkan hal yg sama dg kita...
''Barangsiapa yg ucapan ''Aamiin''nya bersamaan dgpara malaikat, maka Allah akan memberikan ampunan kepadanya.'' (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)
SubhanAllah...
Maha suci Allah.
Sahabatku mulailah saat ini ketika membaca surat Al-Fatihah dengan pelan dan khusyuk, rasakanlah setiap jawaban dari Allah maka inysa Allah kita akan menjadi lebih khusyuk dalam menjalankan shalat, Aamiin.
KEUTAMAAN DZIKIR SETELAH SHOLAT SUBUH
" KEUTAMAAN DZIKIR SETELAH SHOLAT SUBUH "
Diriwayatkan oleh Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Barangsiapa yang mengucapkan doa setiap selesai sholat Subuh, dan ia masih melipatkan kedua kakinya serta belum berkata-kata yang lain, yaitu doa:
Laa Ilaaha Illa Allahu Wahdahu Laa Syarikala Lahu, Lahulmulku walahulhamdu, yuhyi wayumitu, wahuwa 'ala kulli syai'in qodiir..
Sebanyak 10 kali, maka Allah tuliskan baginya 10 kebaikan dan menghapus darinya 10 kejelekan, mengangkat derajatnya sebanyak 10 derajat, dan pada hari itu ia berada di dalam perlindungan dari setiap perkara tidak mengenakkan dan dijaga dari setan. Tidak ada yang bisa membinasakannya hari itu selain perbuatan syirik kepada Allah..
Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no.3811) kitab ad- Da'awat, dan ia berkata, "Hadits hasan shohih"..
Semoga kita bisa mengamalkannya dan menjadi orang yang selalu sambung menyambung kebaikan dengan menyebarkannya. Aamiin..
Semoga Bermanfa'at
KEMERDEKAAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT DI MUKA UMUM
KEMERDEKAAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT DI MUKA UMUM
A. KEMERDEKAAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT DI MUKA UMUM
Pada saat ini, kita sudah hidup dalam era kebebasan. Salah satu hal yang membuktikan datangnya era kebebasan adalah diberikannya kebebasan oleh pemerintah pada masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Menyampaikan pendapat di muka umum telah dikuatkan dalam UU secara khusus untuk mengaturnya. Yaitu, UU no 9 tahun 1998.
Musyawarah sudah dikenal sejak zaman dahulu. Musyawarah merupakan inti dari demokrasi pancasila yang berbunyi “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.”
Setiap orang mempunyai hak menyampaikan pendapat. Baik secara lisan maupun tertulis walau kadangkala pendapat kita berbeda dari orang lain. Itu merupakan hal yang biasa. Apalagi, Indonesia sekarang memasuki masa reformasi seringkali ada demokrasi.
Sebagai negara demokrasi pancasila, Indonesia memberikan kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat bagi warga negaranya. Hal ini secara jelas telah ditegaskan dalam UUD 1945 (amandemen) pada pasal 28E ayat (3), yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat”. Jaminan ini sangat penting bagi negara yang berkedaulatan rakyat.
Pedoman dalam mengeluarkan pendapat dalam musyawarah adalah :
Þ Sadar bahwa semua peserta musyawarah adalah pribadi-pribadi utuh yang mempunyai kemerdekaan penuh untuk berpendapat.
Þ Bersikap duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi terhadap sesama manusia.
Þ Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
Þ Menghindari sifat memaksakan kehendak kepada orang lain.
Þ Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat yang diliputi semangat kekeluargaan.
Þ Menghormati pendapat orang lain meskipun berbeda dengan pendapat kita.
Þ Menerima dan melaksanakan keputusan dengan penuh tanggung jawab.
Selain ditegaskan dalam UUD 1945, kemerdekaan mengemukakan pendapat juga diatur dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 yang dirumuskan lembaga legislatif (DPR bersama presiden / pemerintah) dan disahkan oleh presiden pada tanggal 26 Oktober 1998. Serta jaminan mengemukakan pendapat yang yang tercantum dalam Deklarasi Universal Hak – Hak Asasi Manusia yang secara resmi diberlakukan di seluruh dunia.
1) HAKIKAT KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT
Dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998, mengatur ketentuan umum tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum, yang dimaksud adalah :
1. Kemerdekaan menyampaikan pendapat = Yaitu hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Dimuka umum = Yaitu dihadapan orang banyak termasuk juga tempat yang dapat dilihat oleh orang lain.
è Kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran secara lisan, dan tulisan secara bebas dan bertangggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kemerdekaan mengemukakan pendapat membawa dampak yang besar terhadap perkembangan pembangunan nasional yang dapat mewujudkan masyarakat adil, makmur, sejahtera secara lahir dan batin berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Kemerdekaan menyampaikan pendapat sejalan dengan pasal 19 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, yang berbunyi :
“ Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan dan pendapat dengan cara apapun juga dan tidak memandang batas-batas.”
Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sejalan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip hukum internasional sebagaimana tercantum dalam pasal 29 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia yang antara lain menetapkan sebagai berikut :
1. Seseorang memiliki kewajiban terhadap masyarakat yang memungkinkan pengembangan kepribadiannya secara bebas dan penuh tanggung jawab.
2. Dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya, setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil bagi moralitas, ketertiban, serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.
3. Hak dan kebebasan ini sama sekali tidak boleh dijalankan secara bertentangan dengan tujuan dan asas Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2) ASAS DAN TUJUAN
Bertitik tolak dari pendekatan perkembangan hukum, baik yang dilihat dari sisi kepentingan nasional maupun dari sisi kepentingan hubungan antar bangsa, maka kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus berlandaskan pada :
1. Asas keseimbangan antara hak dan kewajiban
2. Asas musyawarah untuk mufakat
3. Asas kepastian hukum dan keadilan
4. Asas proporsional
5. Asas manfaat
Kelima asas tersebut, merupakan landasan kebebasan yang bertanggung jawab dalam berpikir dan bertindak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Berlandasan asas kelima asas kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum tersebut, maka dalam mencapai tujuan untuk:
1. Mewujudkan kebebasan yg bertanggung jawab sebagai salah satu hak asasi manusia yg sesuai dengan pancasila dan UUD 1945
2. Mewujudkan perlindungan hukum yg konsisten
3. Mewujudkan iklim yg kondusif bagi berkembangnya partisipasi setiap warga negara
4. Menempatkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat
3) HAK DAN KEWAJIBAN
Hak dan kewajiban yang dimiliki oleh setiap warga negara untuk mengemukakan pendapat di muka umum sebagai berikut,
Hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum:
1. Mengeluarkan pikiran secara bebas
2. Memperoleh perlindungan hukum
Kewajiban yang harus ditaati untuk menyampaikan pendapat di muka umum:
1. Menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain
2. Menghormati aturan-aturan moral yg diakui umum
3. Mentaati hukum dan peraturan yang berlaku
4. Menjaga keamanan dan ketertiban umum
5. Menjaga keutuhan persatuan kesatuan bangsa
4) BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA UMUM
1. Bentuk
Bentuk menyampaikan pendapat harus dilaksanakan dengan:
1. Unjuk rasa atau demonstrasi
2. Pawai
3. Rapat umum, dan
4. Mimbar bebas
Penyampaian pendapat tersebut tidak boleh dilakukan, di tempat tempat seperti:
1. Di lingkungan istana kepresidenan, tempat ibadah, instalasi militer, rumah sakit, pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api, terminal angkutan darat, dan objek-objek vital nasional.
2. Pada hari besar nasional
1. Tata cara penyampaian pendapat
Tata cara untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagai berikut:
1. Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud wajib diberitahukan secara tertib kepada Polri.
2. Pemberitahuan secara tertulis
3. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud selambat-lambatnya sebelum kegiatan dimulai
Kemerdekaan berpendapat merupakan salah satu ciri kebebasana yang dijamin oleh negara. Dengan adanya kemerdekaan berpendapat akan mendorong rakyat suatu negara untuk menghargai perbedaan pendapat. Perubahan struktur berpikir masyarakt yang diharapkan adalah pola pikir yg rasional dan berwawasan ke depan.
5) JAMINAN PERLINDUNGAN DARI APARATUR PEMERINTAH
Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum oleh warga negara, aparatur pemerintah berkewajiban bertanggung jawab untuk
1. Melindungi hak asasi manusia
2. Menghargai asas legilasi
3. Menghargai prinsip praduga tidak bersalah, dan
4. Menyelenggarakan pengamanan
Aparatur pemerintah yaitu aparatur pemerintah yang menyelenggarakan pengamanan. Menyelenggarakan pengamanan yaitu segala daya upaya untuk menciptakan kondisi aman, tertib, dan damai. Termasuk pencegah timbulnya gangguan, baik fisik maupun psikis yang berasal dari manapun
Kejujuran Sumber Segala Kebajikan
Kejujuran Sumber Segala Kebajikan
Sejalan dengan usaha untuk selalu memelihara iman yang ada dalam dada kita serta memperhebat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan hidup, hendaklah kitapun harus selalu memelihara norma-norma kesopanan, kesusilaan maupun keagamaan, menjunjung tinggi perintah-perintah Agama serta mengamalkannya dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Sabda Rasulullah SAW :
اتقِ الله حيثما كنتَ وأَتْبِعِ السيئةَ الحسنةَ تَمْحُها وخَالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ (أحمد والحاكم والبيهقى والترمذى والطبرانى)
“Bertaqwallah kepada Allah SWT di manapun kamu berada. Iringilah perbuatan salahmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baikmu menghapuskan perbuatan jelekmu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Diantara budi pekerti yang luhur, akhlak mulia yang diajarkan Islam yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim adalah berlaku jujur, lurus, dapat dipercaya, tidak suka berbohong, baik terhadap diri sendiri, masyarakat terlebih-lebih terhadap Allah SWT.
As-Shidqu (الصدق) mengandung arti kejujuran/kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan. Kejujuran/kebenaran adalah satu kata dengan perbuatan apa yang dilahirkan sama dengan apa yang ada di dalam batinnya, kejujuran meliputi ucapan, perbuatan, dan sikap yang diambilnya.
يَاأَبُّهَا أٰمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119)
Kesungguhan adalah berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan berbagai tugas yang berhubungan dengan Allah Swt dan tugas-tugas kemasyarakatan.
اُولٰۤئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَ اُولٰۤئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Mereka itulah orang yang bersungguh-sungguh dan mereka itulah orang yang bertaqwa”. (QS. At-Taubah: 177)
Sedangkan keterbukaan merupakan sikap lahir dari kejujuran untuk menghilangkan kecurigaan antara satu dengan yang lain, kecuali dalam beberapa hal yang sifatnya harus dirahasiakan.
Kita harus selalu jujur dalam perkataan, dalam perbuatan maupun dalam tingkah laku dan niat. Karena kejujuran menjadi sumber segala amal kebajikan. Betapa tidak ? Coba kita perhatikan, hampir di dalam setiap ibadah yang diwajibkan kepada kita terselip perintah untuk selalu berlaku jujur.
Ketika kita sedang shalat berjamaah, diketahui atau tidak, terdengar ataupun tidak, tercium baunya atau tidak oleh orang lain, pada saat terasa ada angin yang keluar dari –maaf- dubur kita, kita harus keluar dari shaf, keluar dari berjamaah untuk berwudlu kembali, karena yakin bahwa hal itu membatalkan wudlu yang berarti pula shalat kita telah batal.
Dalam puasa di bulan Ramadlan, tidak akan ada satu orangpun yang tahu bahwa kita berpuasa, demikian pula kalau kita tidak puasa kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT.
Dan banyak lagi amal-amal zhahir yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kejujuran sebagai penentu benar dan tidaknya amalan kita. Terlebih-lebih dalam amalan batin, yang berurusan dengan amal hati. Ikhlas atau tidak amal yang kita lakukan, khusyu atau tidak shalat yang telah kita kerjakan ?, tidak akan ada seorangpun yang mengetahuinya, baik itu istri, anak, orang tua, tetangga, teman, kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT.
Walhasil, untuk menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa, maka berlaku dan bersikap jujur menjadi salah satu faktor yang sangat penting, dan menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan sah dan batalnya ibadah kita, diterima atau tidaknya amal kita oleh Allah SWT.Tegasnya, harus kita yakini dan amalkan serta tanamkan di dalam diri kita bahwa kejujuran merupakan sumber dari segala kebajikan.
Dengan kata lain, kejujuran inilah yang akan menjiwai kehidupan kaum muslimin untuk selalu mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya.
Kejujuran inilah yang akan menjadikan seorang pejabat dan pemimpin berlaku adil dan bijaksana. Menjadikan seorang hartawan dapat membelanjakan hartanya dengan sebaik-baiknya ke jalan yang diridlai Allah SWT. Menjadikan seorang ulama selalu berusaha memperbanyak amal untuk agama dan masyarakat.
Kejujuran inilah yang akan menyebabkan setiap orang dapat beramal dengan sebaik-baiknya sesuai dengan bidang dan kecakapannya masing-masing. Dan kejujuran inilah yang menyebabkan manusia berlaku adil, bijaksana dan selalu berbuat baik.
Sebaliknya perilaku tidak jujur, curang, menyeleweng, tidak dapat dipercaya, suka berdusta, apalagi membohongi Allah adalah menjadi sumber dari segala kemunkaran, kesesatan, kejahatan dan kerusakan.
Oleh karena itu untuk membendung arus krisis akhlak yang akan merusak jiwa, perlu sekali masyarakat dibentengi dengan kejujuran. Karena dengan kejujuran dapat ditegakkan kebenaran, keadilan, dan kesentausaan dalam masyarakat.
Bukankah sudah sama-sama kita maklumi dan rasakan bahwa keamanan, ketrentaman dan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terwujud dengan sempurna apabila manusia-manusianya tidak teguh pendirian, tidak dapat dipercaya, tidak jujur, tindak tanduknya penuh dengan kepalsuan dan dusta.
Negara tidak akan memperoleh kemajuan, rakyatnya tidak akan mencapai kesejahteraan apabila para pemimpinnya pendusta, para pejabatnya, pendidiknya, pedagangnya, dan pelaku usaha serta komponen-komponen lainnya di masyarakat tidak berlaku jujur.
Sebab pejabat yang tidak jujur akan melahirkan pejabat yang korup. Pendidik yang tidak jujur akan melalaikan tugasnya sebagai pendidik, masa bodoh, tidak peduli terhadap kemajuan dan keberhasilan anak didiknya. Pedagang yang tidak jujur akan mempermainkan timbangan dan takaran, menimbun barang untuk keuntungan pribadi, mempermainkan harga dan sebagainya. Para pengusaha yang tidak jujur akan menzholimi karyawannya dengan upah rendah dan ancaman PHK. Dan seterusnya-dan seterusnya. Tegasnya, bahwa ketidak jujuran akan menjadi sumber malapetaka bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya :
واِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي الى الفُجُور * وانّ الفجوريهدي الى النار (متفق عليه)
“Dan sesungguhnya kebohongan itu menuntun kepada perbuatan dosa, dan sesungguhnya perbuatan dosa itu menuntun kepada api neraka” (HR. Bukhari-Muslim).
Sebagai seorang muslim yang senantiasa mengharap ridlo dan ampunan Allah SWT, yang selalu memohon rahmat dan hidayah-Nya, harus yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apabila kejujuran yang diajarkan oleh agama diamalkan bersama-sama akan terciptalah masyarakat yang sehat fikiran dan pergaulannya, sehat niat dan cita-citanya, masyarakat yang adil dan makmur dibawah limpahan rahmat dan ampunan Allah SWT. Baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah agar kita dan para pemimpin bangsa dan negara kita, senantiasa diberi kekuatan, diberi kemampuan dan kemauan untuk selalu bersikap dan berperilaku jujur dalam segala hal, dan dijauhkan dari sifat-sifat pembohong dan kemunafikan. Amin ya Robbal ’alamin.
Kejujuran Sumber Segala Kebajikan
Kejujuran Sumber Segala Kebajikan
Rate This
Sejalan dengan usaha untuk selalu memelihara iman yang ada dalam dada kita serta memperhebat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan hidup, hendaklah kitapun harus selalu memelihara norma-norma kesopanan, kesusilaan maupun keagamaan, menjunjung tinggi perintah-perintah Agama serta mengamalkannya dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Sabda Rasulullah SAW :
اتقِ الله حيثما كنتَ وأَتْبِعِ السيئةَ الحسنةَ تَمْحُها وخَالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ (أحمد والحاكم والبيهقى والترمذى والطبرانى)
“Bertaqwallah kepada Allah SWT di manapun kamu berada. Iringilah perbuatan salahmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baikmu menghapuskan perbuatan jelekmu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Diantara budi pekerti yang luhur, akhlak mulia yang diajarkan Islam yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim adalah berlaku jujur, lurus, dapat dipercaya, tidak suka berbohong, baik terhadap diri sendiri, masyarakat terlebih-lebih terhadap Allah SWT.
As-Shidqu (الصدق) mengandung arti kejujuran/kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan. Kejujuran/kebenaran adalah satu kata dengan perbuatan apa yang dilahirkan sama dengan apa yang ada di dalam batinnya, kejujuran meliputi ucapan, perbuatan, dan sikap yang diambilnya.
يَاأَبُّهَا أٰمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119)
Kesungguhan adalah berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan berbagai tugas yang berhubungan dengan Allah Swt dan tugas-tugas kemasyarakatan.
اُولٰۤئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَ اُولٰۤئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Mereka itulah orang yang bersungguh-sungguh dan mereka itulah orang yang bertaqwa”. (QS. At-Taubah: 177)
Sedangkan keterbukaan merupakan sikap lahir dari kejujuran untuk menghilangkan kecurigaan antara satu dengan yang lain, kecuali dalam beberapa hal yang sifatnya harus dirahasiakan.
Kita harus selalu jujur dalam perkataan, dalam perbuatan maupun dalam tingkah laku dan niat. Karena kejujuran menjadi sumber segala amal kebajikan. Betapa tidak ? Coba kita perhatikan, hampir di dalam setiap ibadah yang diwajibkan kepada kita terselip perintah untuk selalu berlaku jujur.
Ketika kita sedang shalat berjamaah, diketahui atau tidak, terdengar ataupun tidak, tercium baunya atau tidak oleh orang lain, pada saat terasa ada angin yang keluar dari –maaf- dubur kita, kita harus keluar dari shaf, keluar dari berjamaah untuk berwudlu kembali, karena yakin bahwa hal itu membatalkan wudlu yang berarti pula shalat kita telah batal.
Dalam puasa di bulan Ramadlan, tidak akan ada satu orangpun yang tahu bahwa kita berpuasa, demikian pula kalau kita tidak puasa kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT.
Dan banyak lagi amal-amal zhahir yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kejujuran sebagai penentu benar dan tidaknya amalan kita. Terlebih-lebih dalam amalan batin, yang berurusan dengan amal hati. Ikhlas atau tidak amal yang kita lakukan, khusyu atau tidak shalat yang telah kita kerjakan ?, tidak akan ada seorangpun yang mengetahuinya, baik itu istri, anak, orang tua, tetangga, teman, kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT.
Walhasil, untuk menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa, maka berlaku dan bersikap jujur menjadi salah satu faktor yang sangat penting, dan menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan sah dan batalnya ibadah kita, diterima atau tidaknya amal kita oleh Allah SWT.Tegasnya, harus kita yakini dan amalkan serta tanamkan di dalam diri kita bahwa kejujuran merupakan sumber dari segala kebajikan.
Dengan kata lain, kejujuran inilah yang akan menjiwai kehidupan kaum muslimin untuk selalu mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya.
Kejujuran inilah yang akan menjadikan seorang pejabat dan pemimpin berlaku adil dan bijaksana. Menjadikan seorang hartawan dapat membelanjakan hartanya dengan sebaik-baiknya ke jalan yang diridlai Allah SWT. Menjadikan seorang ulama selalu berusaha memperbanyak amal untuk agama dan masyarakat.
Kejujuran inilah yang akan menyebabkan setiap orang dapat beramal dengan sebaik-baiknya sesuai dengan bidang dan kecakapannya masing-masing. Dan kejujuran inilah yang menyebabkan manusia berlaku adil, bijaksana dan selalu berbuat baik.
Sebaliknya perilaku tidak jujur, curang, menyeleweng, tidak dapat dipercaya, suka berdusta, apalagi membohongi Allah adalah menjadi sumber dari segala kemunkaran, kesesatan, kejahatan dan kerusakan.
Oleh karena itu untuk membendung arus krisis akhlak yang akan merusak jiwa, perlu sekali masyarakat dibentengi dengan kejujuran. Karena dengan kejujuran dapat ditegakkan kebenaran, keadilan, dan kesentausaan dalam masyarakat.
Bukankah sudah sama-sama kita maklumi dan rasakan bahwa keamanan, ketrentaman dan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terwujud dengan sempurna apabila manusia-manusianya tidak teguh pendirian, tidak dapat dipercaya, tidak jujur, tindak tanduknya penuh dengan kepalsuan dan dusta.
Negara tidak akan memperoleh kemajuan, rakyatnya tidak akan mencapai kesejahteraan apabila para pemimpinnya pendusta, para pejabatnya, pendidiknya, pedagangnya, dan pelaku usaha serta komponen-komponen lainnya di masyarakat tidak berlaku jujur.
Sebab pejabat yang tidak jujur akan melahirkan pejabat yang korup. Pendidik yang tidak jujur akan melalaikan tugasnya sebagai pendidik, masa bodoh, tidak peduli terhadap kemajuan dan keberhasilan anak didiknya. Pedagang yang tidak jujur akan mempermainkan timbangan dan takaran, menimbun barang untuk keuntungan pribadi, mempermainkan harga dan sebagainya. Para pengusaha yang tidak jujur akan menzholimi karyawannya dengan upah rendah dan ancaman PHK. Dan seterusnya-dan seterusnya. Tegasnya, bahwa ketidak jujuran akan menjadi sumber malapetaka bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya :
واِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي الى الفُجُور * وانّ الفجوريهدي الى النار (متفق عليه)
“Dan sesungguhnya kebohongan itu menuntun kepada perbuatan dosa, dan sesungguhnya perbuatan dosa itu menuntun kepada api neraka” (HR. Bukhari-Muslim).
Sebagai seorang muslim yang senantiasa mengharap ridlo dan ampunan Allah SWT, yang selalu memohon rahmat dan hidayah-Nya, harus yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apabila kejujuran yang diajarkan oleh agama diamalkan bersama-sama akan terciptalah masyarakat yang sehat fikiran dan pergaulannya, sehat niat dan cita-citanya, masyarakat yang adil dan makmur dibawah limpahan rahmat dan ampunan Allah SWT. Baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah agar kita dan para pemimpin bangsa dan negara kita, senantiasa diberi kekuatan, diberi kemampuan dan kemauan untuk selalu bersikap dan berperilaku jujur dalam segala hal, dan dijauhkan dari sifat-sifat pembohong dan kemunafikan. Amin ya Robbal ’alamin.
Kejujuran Sumber Segala Kebajikan
Rate This
Sejalan dengan usaha untuk selalu memelihara iman yang ada dalam dada kita serta memperhebat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan hidup, hendaklah kitapun harus selalu memelihara norma-norma kesopanan, kesusilaan maupun keagamaan, menjunjung tinggi perintah-perintah Agama serta mengamalkannya dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Sabda Rasulullah SAW :
اتقِ الله حيثما كنتَ وأَتْبِعِ السيئةَ الحسنةَ تَمْحُها وخَالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ (أحمد والحاكم والبيهقى والترمذى والطبرانى)
“Bertaqwallah kepada Allah SWT di manapun kamu berada. Iringilah perbuatan salahmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baikmu menghapuskan perbuatan jelekmu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Diantara budi pekerti yang luhur, akhlak mulia yang diajarkan Islam yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim adalah berlaku jujur, lurus, dapat dipercaya, tidak suka berbohong, baik terhadap diri sendiri, masyarakat terlebih-lebih terhadap Allah SWT.
As-Shidqu (الصدق) mengandung arti kejujuran/kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan. Kejujuran/kebenaran adalah satu kata dengan perbuatan apa yang dilahirkan sama dengan apa yang ada di dalam batinnya, kejujuran meliputi ucapan, perbuatan, dan sikap yang diambilnya.
يَاأَبُّهَا أٰمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119)
Kesungguhan adalah berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan berbagai tugas yang berhubungan dengan Allah Swt dan tugas-tugas kemasyarakatan.
اُولٰۤئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَ اُولٰۤئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Mereka itulah orang yang bersungguh-sungguh dan mereka itulah orang yang bertaqwa”. (QS. At-Taubah: 177)
Sedangkan keterbukaan merupakan sikap lahir dari kejujuran untuk menghilangkan kecurigaan antara satu dengan yang lain, kecuali dalam beberapa hal yang sifatnya harus dirahasiakan.
Kita harus selalu jujur dalam perkataan, dalam perbuatan maupun dalam tingkah laku dan niat. Karena kejujuran menjadi sumber segala amal kebajikan. Betapa tidak ? Coba kita perhatikan, hampir di dalam setiap ibadah yang diwajibkan kepada kita terselip perintah untuk selalu berlaku jujur.
Ketika kita sedang shalat berjamaah, diketahui atau tidak, terdengar ataupun tidak, tercium baunya atau tidak oleh orang lain, pada saat terasa ada angin yang keluar dari –maaf- dubur kita, kita harus keluar dari shaf, keluar dari berjamaah untuk berwudlu kembali, karena yakin bahwa hal itu membatalkan wudlu yang berarti pula shalat kita telah batal.
Dalam puasa di bulan Ramadlan, tidak akan ada satu orangpun yang tahu bahwa kita berpuasa, demikian pula kalau kita tidak puasa kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT.
Dan banyak lagi amal-amal zhahir yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kejujuran sebagai penentu benar dan tidaknya amalan kita. Terlebih-lebih dalam amalan batin, yang berurusan dengan amal hati. Ikhlas atau tidak amal yang kita lakukan, khusyu atau tidak shalat yang telah kita kerjakan ?, tidak akan ada seorangpun yang mengetahuinya, baik itu istri, anak, orang tua, tetangga, teman, kecuali diri kita sendiri dan Allah SWT.
Walhasil, untuk menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa, maka berlaku dan bersikap jujur menjadi salah satu faktor yang sangat penting, dan menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan sah dan batalnya ibadah kita, diterima atau tidaknya amal kita oleh Allah SWT.Tegasnya, harus kita yakini dan amalkan serta tanamkan di dalam diri kita bahwa kejujuran merupakan sumber dari segala kebajikan.
Dengan kata lain, kejujuran inilah yang akan menjiwai kehidupan kaum muslimin untuk selalu mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya.
Kejujuran inilah yang akan menjadikan seorang pejabat dan pemimpin berlaku adil dan bijaksana. Menjadikan seorang hartawan dapat membelanjakan hartanya dengan sebaik-baiknya ke jalan yang diridlai Allah SWT. Menjadikan seorang ulama selalu berusaha memperbanyak amal untuk agama dan masyarakat.
Kejujuran inilah yang akan menyebabkan setiap orang dapat beramal dengan sebaik-baiknya sesuai dengan bidang dan kecakapannya masing-masing. Dan kejujuran inilah yang menyebabkan manusia berlaku adil, bijaksana dan selalu berbuat baik.
Sebaliknya perilaku tidak jujur, curang, menyeleweng, tidak dapat dipercaya, suka berdusta, apalagi membohongi Allah adalah menjadi sumber dari segala kemunkaran, kesesatan, kejahatan dan kerusakan.
Oleh karena itu untuk membendung arus krisis akhlak yang akan merusak jiwa, perlu sekali masyarakat dibentengi dengan kejujuran. Karena dengan kejujuran dapat ditegakkan kebenaran, keadilan, dan kesentausaan dalam masyarakat.
Bukankah sudah sama-sama kita maklumi dan rasakan bahwa keamanan, ketrentaman dan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terwujud dengan sempurna apabila manusia-manusianya tidak teguh pendirian, tidak dapat dipercaya, tidak jujur, tindak tanduknya penuh dengan kepalsuan dan dusta.
Negara tidak akan memperoleh kemajuan, rakyatnya tidak akan mencapai kesejahteraan apabila para pemimpinnya pendusta, para pejabatnya, pendidiknya, pedagangnya, dan pelaku usaha serta komponen-komponen lainnya di masyarakat tidak berlaku jujur.
Sebab pejabat yang tidak jujur akan melahirkan pejabat yang korup. Pendidik yang tidak jujur akan melalaikan tugasnya sebagai pendidik, masa bodoh, tidak peduli terhadap kemajuan dan keberhasilan anak didiknya. Pedagang yang tidak jujur akan mempermainkan timbangan dan takaran, menimbun barang untuk keuntungan pribadi, mempermainkan harga dan sebagainya. Para pengusaha yang tidak jujur akan menzholimi karyawannya dengan upah rendah dan ancaman PHK. Dan seterusnya-dan seterusnya. Tegasnya, bahwa ketidak jujuran akan menjadi sumber malapetaka bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya :
واِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي الى الفُجُور * وانّ الفجوريهدي الى النار (متفق عليه)
“Dan sesungguhnya kebohongan itu menuntun kepada perbuatan dosa, dan sesungguhnya perbuatan dosa itu menuntun kepada api neraka” (HR. Bukhari-Muslim).
Sebagai seorang muslim yang senantiasa mengharap ridlo dan ampunan Allah SWT, yang selalu memohon rahmat dan hidayah-Nya, harus yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apabila kejujuran yang diajarkan oleh agama diamalkan bersama-sama akan terciptalah masyarakat yang sehat fikiran dan pergaulannya, sehat niat dan cita-citanya, masyarakat yang adil dan makmur dibawah limpahan rahmat dan ampunan Allah SWT. Baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah agar kita dan para pemimpin bangsa dan negara kita, senantiasa diberi kekuatan, diberi kemampuan dan kemauan untuk selalu bersikap dan berperilaku jujur dalam segala hal, dan dijauhkan dari sifat-sifat pembohong dan kemunafikan. Amin ya Robbal ’alamin.
Keistimewaan Hari Jum'at
Keistimewaan Hari Jum'at"
Beberapa rahasia keagungan hari Jum'at adalah sebagai berikut:
1. Pertama, Hari Keberkahan.
Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandungpengarahan dan pengajaran sertanasihat-nasihat ¬ yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan.
Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.
2. Kedua, Hari Dikabulkannya doa.
Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.
“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya danmemohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [ HR.Bukhari dan Muslim ]
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akanmengabulkannya. ¬”
[ Muttafaqun Alaih ]
3. Ketiga, Hari Diperintahkanny ¬a Shalat Jumat.
Rasulullah bersabda:
“Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalatJumat. Atau ( jika tidak ) Allah pasti akan mengunci hari mereka,kemudian mereka pasti menjadi orang- orang yang lalai.” [ HR.Muslim ]
Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan:
“Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang : budak, atauwanita, atau anak kecil, atau orang sakit.”[ HR.Abu Daud ]
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [ QS: Al-Jumu'ah:9 ]
“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia,maka baginya bagi setiap langkahpahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”
4. Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non- Muslim.
Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.
Abu Hurairah meriwayatkan:
Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu,dan Ahad.
Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranyasebelum seluruh makhluk.”
[ HR. Muslim ]
5. Kelima, Hari Allah s.w.t menampakan diri.
Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari ¬ Jumat Allah s.w.t menampakkan diri kepada hamba-hambaNya yang beriman di Surga.
Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat:
“Dan Kami memiliki pertambahannya” ¬ ( QS.50:35 ) mengatakan:”All ¬ah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”
Dan masih banyak keistimewan hari Jumat.
Di antaranya adalah:
Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.
Pada hari Jumat tersebut terdapatlima keistimewaan: Hari itu, bapaksemua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.
Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.
Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, ¬ dan mengkhususkanny ¬a untuk beribadah dibandingkan hari-harilainnya.
Semoga Bermanfa'at
Langganan:
Postingan (Atom)